Jakarta -
Di mana sih Kampung Arab-nya Jakarta? Ternyata, luasnya Jakarta Raya
ini membuat satu Kampung Arab saja tidak cukup. Di Jakarta Timur ada
kawasan Cawang-Condet yang ramai dihuni kaum jamaah. Di Jakarta Pusat,
mereka kebanyakan bermukim di sekitar Tanahabang. Tetapi, sejak lama
pula ruas Jalan Raden Saleh di Jakarta Pusat merupakan "pusat" hunian
kaum keturunan Arab. Bukankah Raden Saleh sendiri yang dulu mempunyai
puri (mansion) di jalan itu adalah juga seorang ningrat dari kalangan
ini?
Maka, tidaklah mengherankan bila di sepanjang jalan ini
dapat dijumpai beberapa rumah makan dan restoran yang khusus menyajikan
masakan Arab. Beberapa nama lama masih bertahan di sini, sekalipun sudah
muncul pula restoran baru dengan dekor maupun eksterior yang lebih
mewah dan modern.
Favorit saya di sini adalah Rumah Makan Almira.
Ini gara-gara dulu saya pernah ditraktir Mas Harun Musawa yang ketika
itu memang berkantor di dekat sana juga. Almira adalah sebuah rumah
makan sederhana, tetapi dengan citarasa Arabia yang autentik. Saya
bahkan pernah membungkus nasi briyani untuk oleh-oleh bagi almarhum
Husein Mutahar – pencipta ode "Syukur" dan beberapa lagu nasional lain –
yang juga dikenal sebagai seorang lekkerbek (epicurian,
pedoyan makan). Seingat saya, komentarnya ketika itu adalah: "Kurang
sedikiiiit. Harusnya pakai acar nanas, supaya lebih ng-Arab." Semoga Kak
Mut bahagia bersama Allah di surga.
Nasi briyani-nya (Rp 35
ribu) memang istimewa. Sekalipun tidak memakai beras basmati (yang mahal
karena harus di-impor), nasi kebuli Almira bumbunya nancep di lidah.
Kekuatan Almira memang pada bumbunya yang intens. Kalau tidak salah
observasi, rumah makan ini dimiliki oleh keturunan Arab dari Jawa Timur.
Karena itu di sini juga ada sop kikil (Rp 35 ribu) yang khas Kampung
Ampel – kampungnya kaum keturunan Arab di Surabaya.
Satu porsi
nasi briyani disajikan dengan beberapa potong kambing goreng yang juga
sangat gurih dan empuk. Kondimennya adalah sambal tomat-seledri dan acar
timun-tomat yang bernuansa asam-manis. Top markotop!
Selain nasi
briyani yang juara, juga ada nasi bukhari – juga sering disebut sebagai
nasi khabsah – yaitu nasi yang dimasak dengan bumbu dan berbasis tomat.
Nasi goreng kambingnya juga berkualitas di atas rata-rata nasgorkam
favorit Jakarta lainnya. Favorit lain di antara kaum Arab yang menjadi
pelanggan rumah makan ini adalah marakh alias sop kambing (Rp 35 ribu)
yang dimakan dengan roti hobus.
Sate kambing dan kambing goreng
Almira juga dapat diandalkan. Tidak doyan kambing? Rugi besar. Tetapi,
oke-lah. Anda juga dapat memesan ayam goreng atau gado-gado di sini.
Jangan lupa, minuman pendampingnya yang khas adalah kopi jahe.
Tidak
hanya menjual makanan. Di halaman belakang yang menghadap ke Jalan
Raden Saleh I, Almira juga menyediakan tempat yang nyaman dan teduh
untuk mengisap pipa air (shisha) berbagai citarasa dan aroma. Juga ada
sebuah toko kecil yang menjual berbagai suvenir dari Timur Tengah. Bila
Anda suka madu Yaman – the best in the world – Anda dapat membeli di
sini dengan harga Rp 250 ribu per botol. Saya suka almond disangrai
sebentar, kemudian dikucuri sedikit madu Yaman.
Cikini di Gondangdia. Mampir sini, cicipi kebuli Almira!
RM Almira
Jl. Raden Saleh 6B
Jakarta Pusat
021 3161494
sumber detik.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar